Cari Blog Ini

Rabu, 29 Februari 2012

MAKALAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN 'Konsep Pembelajaran DAN Penerapan Sistem Belajar Mandiri

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Teknologi pendidikan merupakan konsep yang kompleks.Ia dapat dikaji dari berbagai segi dan kepentingan. Kecuali itu teknologi pendidikan sebagai suatu bidang kajian ilmiah, senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang mendukung dan mempengaruhinya.Teknologi pendidikan selalu dikaitkan dengan adanya peralatan terutama yang berupa ruparungu (audiovisual). Peralatan inipun hanya berfungsi sebagai alat bantu guru dalam mengajar. Oleh karena itu istilah ”teknologi pendidikan” dipersempit menjadi ”teknologi pembelajaran”. Berdasarkan perkembangan paradigma yang terakhir ini, maka definisi teknologi pembelajaran adalah teori dan praktik dalam merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, dan menilai proses dan sumber untuk belajar. Secara operasional teknologi pendidikan dapat dikatakan sebagai proses yang bersistem dalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu pertama yang sistemik atau beraturan, dan kedua yang sistemik atau beracuan pada konsep system.[1]
Oleh karena itu konsepsi system pembelajaran sangat perlu dilakukan agar tercapai apa yang menjadi sebuah target kesuksesan dalam belajar. Untuk lebih jelasnya mengenai konsep tersebut akan di bahas penulis pada bab berikutnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Ruang Lingkup Konseps Pembelajaran?
2.      Bentuk Konsepsi sitem pembelajaran?
3.      Konsepsi Dan Penerapan Sistem Belajar Mandiri?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Ruang Lingkup Konsep Pembelajaran
Dalam konsep teknologi pendidikan, dibedakan istilah pembelajaran (instruction) dan pengajaran (teaching).Pembelajaran, disebut juga kegiatan pembelajaran instruksional, adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif tertentu dalam kondisi tertentu.Sedangkan pengajaran adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalam situasi resmi atau formal.
Reigeluth dan Merrill (1983) berpendapat bahwa pembelajaran sebaiknya didasarkan pada teori pembelajaran yang bersifat preskiptif, yaitu teori yang memberikan ”resep” untuk mengatasi masalah belajar. Teori pembelajarn yang prespektif itu harus memerhatikan tiga variabel, yaitu variabel kondisi, metode, dan hasil. Kerangka teori instruksional itu dapat digambarkan sebagai berikut :
1.      Kondisi Karakteristik Pelajaran
2.      Karakteristik Siswa Pembelajaran
3.      Tujuan Hambatan
4.      Metode Pengorganisasian Bahan Pelajaran
5.      Strategi Penyampaian
6.      Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran
Karakteristik siswa meliputi pola kehidupan sehari-hari, keadaan sosial ekonomi, kemampuan membaca, dan sebagainya.Karakteristik pelajaran meliputi tujuan apa yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut, dan apa Tujuanhambatan untuk pencapaian itu. Misalnya saja kemampuan berbahasa Inggris yang umumnya lemah merupakan hambatan untuk mempelajari teks berbahasa Inggris.Pengorganisasiaan bahan pelajaran, meliputi antara lain bagaimana merancang bahan untuk keperluan belajar mandiri. Strategi penyampaian meliputi pertimbangan panggunaan media apa untuk menyajikan nya, siapa dan atau apa yang akan menyajikan, dan sebagainya. Sedang pengelolaan kegiatan meliputi keputusan untuk mengembangkan dan mengelola serta dan bagaimana digunakannya bahan pelajaran dan strategi penyampaian. Berdasarkan kerangka teori itu setiap metode pembelajaran harus mengandung rumusan pengorganiasasian, bahan pelajaran, strategi penyampaian, dan pengelolaan kegiatan, dengan memerhatikan faktor tujuan belajar, hambatan belajar, karakteristik siswa, agar dapat diperoleh efektivitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.[2]

B..Bentuk Konsepsi Sistem Pembelajaran
Secara operasional teknologi pendidikan dapat dikatakan sebagai proses yang bersistem dalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu pertama yang sistemik atau beraturan, dan kedua yang sistemik atau beracuan pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dilakukan dengan langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasikan kemungkinan pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan kriteria pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan menguji cobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan dan mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya.
Pendekatan yang sistemik adalah yang memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang menyeluruuh (komprehensif) dengan segala komponen yang saling terintegrasi.Keseluruhan itu lebih bermakna dari sekadar penjumlahan komponen-komponen. Tiap komponen mempunyai fungsi sendiri, dan perubahan pada tiap komponen akan mempengaruhi komponen lain serta sistem sebagai keseluruhan. Pendekatan ini juga memperhatikan bahwa pendidikan sebagai suatu sistem terdiri dari berbagai lapis sistem: makro, meso dan mikro. Pendidikan di dalam kelas merupakan lapis terbawah atau terkecil atau suatu sistem mikro.Sedangkan pendidikan nasional merupakan sistem makro atau yang paling atas.Masalah belajar yang dipecahkan banyak ragamnya.
Ada masalah dalam skala mikro, yaitu masalah yang dihadapi guru dalam satu kelas untuk mata pelajaran tertentu, dan ada masalah makro, yaitu masalah pendidikan nasional, misalnnya ketersediaan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan lanjut. Pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain.
 Usaha ini dapat dilakukan oleh seseorang atau suatu tim yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam merancang dan atau mengembangkan sumber belajar yang diperlukan.
Pengertian ini dibedakan dengan pengajaran yang telah terlanjur mengandung arti sebagai penyajian bahan ajaran yang dilakukan oleh seseorang pengajar. Pembelajaran tidak harus diberikan oleh pengajar, karena kegiatan itu dapat dilakukan oleh perancang dan pengembang sumber belajar, misalnya seorang teknolog pembelajaran atau suatu tim terdiri dari ahli media dan ahli materi ajaran tertentu. Keberhasilan proses belajar mengajar dapat terjadi dari upaya berbagai komponen dan salah satunya adalah strategi pembelajaran, yang menjadi salah satu bahan kajian dalam teknologi pendidikan.
Semua bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Setiap teknologi, tidak terkecuali teknologi pendidikan, merupakan proses untuk menghasilkan nilai tambah, sebagai produk atau piranti untuk dapat digunakan dalam aneka keperluan, dan sebagai sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berkaitan untuk suatu tujuan tertentu. Melihat penjelasan diatas untuk itu penulis mengakat tema ”Strategi Pembelajaran dengan Konsep Dasar Pola Sistem Belajar Mandiri”. Dengan tujuan penulisan untuk mengetetahui strategi pembelajaran dengan Konsep Dasar Pola Sistem Belajar Mandiri[3]

C. Konsepsi Dan Penerapan Sistem Belajar Mandiri
Sistem Belajar Mandiri Salah Satu Aplikasi Teknologi Pendidikan Penerapan teknologi pendidikan sangatlah luas dalam satu rangkaian sistem yaitu yang bersifat mikro dan bersifat makro.Taknologi pendidikan merupakan suatu konsep yang masih relatif baru.Secara ringkas dapat disebutkan bahwa teknologi pendidikan sebagai suatu konsep, mengandung sejumlah gagasan dan rujukan.Gagasan yang ingin diwujudkan adalah agar setiap pribadi dapat berkembang semaksimal mungkin dengan jalan memanfaatkan teknologi sedemikian rupa sehingga selaras dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan.Rujukan konsep itu merupakan hasil sintesi dari gejala yang diamati dan kecenderungan yang ada.
Analisis empirik terhadap sistem belajar mandiri yang dilakukan untuk menghasilkan manfaat penerapan teknologi instruksional :[4]
1.      Meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan :
a)      Memperlaju penerapan bahan
b)      Membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik
c)      Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegiatan belajar anak didik
2.      Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan :
a)      Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional
b)      Memberikan kesempatan anak didik untuk berkembang sesuai perkembangan perorangan mereka
3.      Memberikan dasar pembelajaran yang lebih ilmiah dengan jalan:
a)      Perencanaan program pembelajaran secara bersistem
b)      Pengembangan bahan ajaran yang dilandasi penelitian
4.      Memungkinkan belajar lebih akrab, karena dapat :
a)      Mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan diluar sekolah
b)      Memberikan pengalaman tangan pertama
5.      Memungkinkan pemerataan pendidikan yang bermutu, terutama dengan :
a)      Dimanfaatkan bersama tenaga atau kejadian langka
b)      Didatangkannya pendidikan kepada mereka ytang memerlukan Analisis ini dilakukan dengan harapan bahwa keberadaan teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan dan benar-benar mampu menjadi solusi terhadap pemecahan semua permasalahan bejara, baik yang bersifat mikro ataupun makro.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem belajar mandiri merupakan satu tawaran konsep dalam pengembangan strategi pembelajaran, sebagai solusi pemecahan permasalahan pendidikan yang menjadi garapan bidang teknologi pendidikan.Dimana telah disebutkan dimuka bahwa teknologi pendidikan membantu memecahkan maslah belajar.
Masalah belajar yang bersifat mikro maupun makro.Menurut penulis strategi pembelajaran merupakan permasalahan yang bersifat mikro. Beberapa masala belajar-mengajar yang bersifat mikro, misalnya adalah :
1. Sulit mempelajari konsep yang abstrak
2. sulit membayangkan peristiwa yang telah lau
3. Sulit mengamati sesuatu objek yang terlelu kecil/besar
4. Sulit memperoleh pengalaman langsung
5. Sulit memahami pelajaran yang diceramahkan
6. Sulit untuk memahami konsep yang rumit
7. Terbatasnya waktu untuk belajar Masalah tersebut dapat diatasi dengan menggunakan berbagai kombinasi komponen sistem pembelajaran. Misalnya, masalh pada butir 1 s/d 4 dapat diatasi dengan digunakannya media pembelajaran.Masalah tersebut pada butir 5 s/d 7 dapat diatasi dengan mengkombinasikan pesan dengan teknik pembelajaran tertentu.
Namun, perlu ditegaskan bahwa untuk pemecahan masalah ini tidak mungkin dilakukan hanya dengan dasar institusi ataupun peniruan begitu saja. Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus untuk keperluan itu, yaitu dibidang teknologi pendidikan. Proses belajar mandiri, diharapkan dapat memberi kesempatan para peserta didik untuk mencerna materi ajar dengan sedikit bantuan guru. Mereka mengikutikegiatan belajar belajar dengan materi ajar yang sudah dirancang khusus sehingga masalah atau kesulitan sudah diantisipasi sebelumnya.
Model belajar mandiri ini sangat bermanfaat, karena dianggap luwes, tidak mengikat, serta melatih kemandirian siswa agar tidak tergantung atas kehadiran atau uraian materi ajar dari guru.


DAFTAR PUSTAKA

Prawiradilaga, Dewi Salma, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, Cetakan ke-2, 2007
Miarso, Yusuf Hadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, Cetakan ke-3, 2007
http://rosdianablog.blogspot.com/2009/06/landasan-teori-dan-konsep-sistem.html akses 10 Desember 2010


[1]Miarso, Yusuf Hadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, Cetakan ke-3, 2007.

[2]http://rosdianablog.blogspot.com/2009/06/landasan-teori-dan-konsep-sistem.html

[3]Ibid html

[4]Prawiradilaga, Dewi Salma, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, Cetakan ke-2, 2007.

KONSEP SISTEM EKONOMI


A. KONSEP SISTEM EKONOMI
1. Pengertian Sistem dan Sistem Ekonomi
                  Istilah “sistem” berasal dari perkataan “systema” (bahasa Yunani), yang dapat diartikan sebagai: keseluruhan yang terdiri dari macam-macam bagian. Beberapa definisi tentang sistem antara lain :
- Suatu sistem adalah seperangkat komponen, yang saling berhubungan satu samalain, yang memiliki batas yang menseleksi baik macamnya maupun banyaknya input yang masuk dan output yang keluar dari sistem tersebut.
- Sistem tersusun dari seperangkat komponen yang bekerja secara bersama-sama untuk mencapai semua tujuan dari keseluruhan sistem tersebut.
- Sebuah sistem dapat digambarkan sebagai sebuah kumulan dari elemen-elemenn atau komponen-komonen dimana beberapa dari komponen tersebut saling berhubungan secara tetap dalam jangka waktu tertentu.
Beberapa ciri dari sebuah sistem dirumuskan antara lain sebagai berikut :
- Walaupun sistem itu mempunyai batas, akan tetapi sistem itu bersifat terbuka, dalam arti bertinteraksi juga dengan lingkungannya.
- Setiap sistem tidak hanya sekedar kumpulan berbagai bagian, unsur atau komponen, melainkan merupakan satu kebulatan yang utuh dan padu, bersifat “wholism”.
- Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses mengubah masukan menjadi keluaran. (dikutip dai Amirin dalam Suroso, 1994).
Dari beberapa definisi dan ciri-ciri sebuah sistem dapat disimpulkan, bahwa setiap sistem sekurang-kurangnya terdiri dari lima unsur: elemen sistem, fungsi elemen, hubungan antar elemen, pranata (institusi) ekonomi, tujuan sistem ekonomi. Secara singkat dan umum dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi mencakup seluruh proses dan kegiatan masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup atau mencapai kemakmuran.




2. Unsur-unsur Sistem Ekonomi
Elemen-elemen dalam Sistem Ekonomi antara lain :
a) Unit-unit ekonomi seperti rumah tangga, perusahaan, serikat buruh, instansi pemerintah dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi.
b) Pelaku-pelaku ekonomi seperti konsumen, produsen, buruh, invstor dan pejabat-pejabat yang terkait.
c) Lingkungan Sumber Daya Alam (SDA) Dan Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Kapital (SDK), Sumber Daya Teknologi (SDT).
3. Fungsi Elemen Sistem Ekonomi
            Masing-masing elemen (unit-unit ekonomi, pelaku-pelaku ekonomi) mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang harus dijalankan selama berlangsungnya proses kegiatan ekonomi, seperti fungsi-fungsi produksi, konsumsi, distribusi, injvestasi, regulasi. Bagaimana hasil dari kegiatan ekonoim sanat tergantung bagaimana elemen-elemen sistem ekonomi tersebut menjalankann fungsinya. Dalam perjalanan fungsinya, setiap elemen bisa fungsional, bisa non fungsional atau disfungsional.
4. Hubungan antar Elemen Sistem Ekonomi
Unit-unit ekonomi, pelaku-pekaku ekonomi, SDA dan SDM saling berhubungan satu sama lain dalam suatu pola hubungan tertentu, sehingga menimbulkan proses kegiatan ekonomi. Pola-pola hubungan tergantung dari sifat hubungan antar elemen, sebab hubungan-hubungan itu ada yang bersifat interelasi, interaksi dan interdependensi serta  hubungan fungsional, kausal. Dengan demikian proses kegiatan ekonomi bisa berlangsung secara efisien, tidak efisien atau produktif, kurang produktif, karena perbedaan dalam menjalankan fungsi elemen dan pola hubungan elemen.
5. Pranata (Institusi) Ekonomi
Karena adanya hubungan antar elemen maka timbul produk kegiatan ekonomi, yang berlangsung secara berulang-ulang dan teratur menurut pola tertentu, sebab ada mekanisme (prosedur) yang mengaturnya. Mekanisme atau prosedur (aturan main) yang mengendalikan proses kegiatan ekonomi itu disebut institusi ekonomi yang terdiri dari :
a)      Norma hidup, seperti norma agama, adat-istiadat, tradisi, etika profesi.
b)      Peraturan hidup, seperti konstitusi (UUD), undang-undang, peraturan pemerintah (PP), Peraturan Darah (Perda), Keputusan Presiden (Keppres), Surat Keputusan/ Surat Edaran Pejabat Resmi, Perjanjian-perjanjian Bilateral/ Internasional.
c)       Paham Hidup, seperti pandangan hidup, cra hidup, ideologi. (Grossman, Gregoary, 1967).
6. Tujuan Sistem Ekonomi
Tujuan sistem ekonomi suatu bangsa atau suatu negara pada umumnya meliputi empat tugas pokok:
- Menentukan apa, berapa banyak dan bagaimana produk-produk dan jasa-jasa yang dibutuhkan akan dihasilkan.
- Mengalokasikan produk nasional bruto (PNB) untuk konsumsi rumah tangga, konsumsi masyarakat, penggantian stok modal, investasi.
- Mendistribusikan pendapatan nasional (PN), diantara anggota masyarakat : sebagai upah/ gaji, keuntungan perusahaan, bunga dan sewa.
- Memelihara dan meningkatkann hubungan ekonomi dengan luar negeri. (Grossman, Gregoary, 1967).
B. PENDEKATAN MELALUI SISTEM EKONOMI
1. Beberapa Pendekatan dalam Ilmu Ekonomi
Istilah “sistem” dapat dipergunakan dalam pengertian bermacam-macam sesuai dengann lingkup persoalan yang dihadapi, diantaranya adalah : Istilah “sistem” yang dipergunakan dalam arti metode atau tata cara untuk memahami sesuatu persoalan atau sesuatu pekerjaan. Contohnya sistem mengetik sepuluh jari, sistem modul dalam pengajaran.
            Istilah “sistem” yang menunjukkan adanya sekumpulan (himpunan) gagasan-gagasan (ide); yang mengandung prinsip-prinsip, doktrin-doktrin, hukum-hukum, yang tersusun terorganisasikan dalam satu kesatuan yang logik. Contohnya seperti sistemm demokrasi liberal, sistem ekonomi kapitalis.
            Istilah sistem (sistem ekonomi) di sini dipergunakan dalam pengertian yang pertama. Istilah sistem ekonomi yang tersusun dari lima unsur sebagaimana diuraikan di atas digunakan sebagai konsep pendekatan, sebagai salah satuu alat analisis dalam memahami persoalan ekonomi, khususnya memahami persoalan ekonomi Indonesia.
            Selama ini kita telah terbiasa memahami persoalan-persoalan ekonomi dengan pendekatan Teori Ekonomi Mikro, Teori Ekonomi Makro, Teori Keuangan dan lain-lain. Umumnya kita belum biasa menggunakan pendekatan sistem (system approach) untuk memahami dan memecahkan persoalan-persoalan ekonomi.
            Tujuan dari pengajaran teori pada umumnya dan teori ekonomi mikro, teori ekonomi makro pada khususnya, yaitu inter alia, menunjukkan cara-cara untukmenangkap dan menyederhanakan serta memecahkan permasalahan yang dihadapi secara sistematis. Untuk maksud ini disamping perlu uraian tentang konsep-konsep guna mencari hubungan sebab-akibat (causal) atau interdependensi antara semua unsur-unsur yang terkandung dalam konsep itu secara verbal, dipergunakan pula alat-alat analisa grafis dan matematis (Sudarsono, 1983).
2. Kelebihan Pendekatan Sistem Ekonomi
Beberapa dengan pendekatan teori ekonomi yang melihat persoalan-persoalan ekonomi secara “terkotak-kotak” maka pendekatan sistem ekonomi melihat persoalan ekonomi secara utuh, sistem ekonomi dipandang sebagai suatu totalitas. Dengan demikian setiap persoalan ekonomi yang kita hadapi, kita lihat secara menyeluruh – dilihat dari kelima unsur sistem ekonomi – sehingga seluruh fakta yang berkaitan dengan persoalan tersebut bisa terungkap secara lengkap.
            Salah satu konsep pokok dalam teori sistem adalah : “Keseluruhan bukan hanya jumlah dari pada bagian-bagian”, (jadi keseluruhan bisa melebihi jumlah dari bagian-bagian). Karena itu penerapan cara pendekatan sistem bisa membantu kita mencapai suatu efek sinergistik (synergistic effect), dimana tindakan-tindakannnnn berbagai bagian yang berbeda dalam sistem itu  yang dipersatukan, menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah dari pada bagian-bagian yang beraneka ragam itu.
C. PERBANDINGAN SISTEM-SISTEM EKONOMI
Ada dua cara penggolongan penggolongan sistem ekonomi. Pertama berdasarkan yang mengatur  mekanisme : a) Sistem ekonomi tradisional, b) sistem ekonomi pasar, c) sistem ekonomi komando/ terpimpin. Kedua bedasarkan yang mengatur kepemilikan aset: a) sistem ekonomi kapitalis, b) sistem ekonomi sosialis, c) sistem ekonomi campuran (Grossman, Gregory, 1967).
1. Sistem Ekonomi Kapitalis (Kapitalisme)
a. Ciri-ciri Kapitalisme :
- Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi
   Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu
   Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya.
- Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar
Pasar berfungsi memberikan “signal” kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga.
Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang    mengatur perekonomian menjadi efisien.
   Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba
- Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri.
Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme).
b. Kebaikan-kebaikan Kapitalisme
a)      Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan distribusi barang-barang.
b)       Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya.
c)       Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga waktu dan biaya yang diperlukan lebih kecil.
c. Kelemahan-kelemahan Kapitalisme
a)      Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik.
b)       Sistsem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien, karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain).

d. Kecenderungan Bisnis dalam Kapitalisme
Perkembangan bisnis sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang berlaku. Kecenderungan bisnis dalam kapitalisme dewasa ini: a) adanya spesialisasi, b) adanya produksi massa, c) adanya perusahaan berskala besar, d) adanya perkembangan penelitian.
2. Sistem Ekonomi Sosialis (Sosialisme)
a. Ciri-ciri Sosialisme
·               Lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivisme)
-          Masyarakat dianggap sebagai satu-satunya kenyataan sosial, sedang individu-individu fiksi belaka.
-          Tidak ada pengakuan atas hak-hak pribadi (individu) dalam sistem sosialis.
·               Peran pemerintah sangat kuat
-    Pemerintah bertindak aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga tahap pengawasan.
-    Alat-alat produksi dan kebijaksanaan ekonomi semuanya diatur oleh negara.
·               Sifat manusia ditentukan oleh pola produksi
-    Pola produksi (aset dikuasai masyarakat) melahirkan kesadaran kolektivisme (masyarakat sosialis)
-    Pola produksi (aset dikuasai individu) melahirkan kesadaran individualisme (masyarakat kapitalis).
b. Kelemahan-kelemahan Sosialisme
.       Teori pertentangan kelas tidak berlaku umum
Tidak banyak kasus, hanya terjadi pada saat revolusi industri (abad pertengahan) dan revolusi Bolsevik tahun 1917). Di India banyak kasta, tapi tidak pernah terjadi revolusi sosial.
·                Tidak ada kebebasan memilih pekerjaan
Maka kreativitas masyarakat tehambat, produktivitas menurun, produksi dan perekonomian akan mandeg.
·                Tidak ada insentive untuk kerja keras
Maka tidak ada dorongan untuk bekerja lebih baik, prestasi dan produksi menurun, ekonomi mundur.
·                Tidak menjelaskan bagaimana mekanisme ekonomi
·               Karl Marx hanya mengkritik keburukan kapitalisme, tapi tidak menjelaskann mekanisme yang mengalokasikan sumber daya di bawah sosialisme.
3. Sosialisme tidak sama dengan komunisme
-          Sosialisme merupakan tahap persiapan ke komunisme.
-          Komunisme merupakan tahap akhir perkembangan masyarakat (The Six Major Historical Stages): primitive communism slaery feudalism, capitalism, sosialism dan full communism (Grossman, Gregoary, 1967).
3. Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy)
(1) Ciri-ciri Ekonomi Campuran
a)      Kedua sektor ekonomi hidup berdampingan
-          Ada kegiatan ekonomi yang dilakukan pribadi (swasta) dan sebagian lagi (yang menyangkut hidup orang banyak) dikelola oleh negara/ pemerintah.
b)      Interaksi ekonomi terjadi di pasar
-          Tapi di sana sini ada campur tangan pemerintah dengan berbagai kebijaksanaan.
c)      Persaingan dalam sistem campuran diperbolehkan
Tetapi gerak-geriknya diawasi oleh pemerintah agar tidak mengarah saling merugikan (mencegah konsentrasi ekonomi/ monopoli).
d) Campur Tangan Pemerintah  : Ada yang sifatnya keras, ada yang lunak . Keras : sifat menyeluruh, merencanakan, melaksanakan, mengawasi. Lunak : melakukan perencanaan melalui mekanisme pasar untuk menjamin pemerataan dan keadilan.
e) Alasan perlunya campur tangan pemerintah
-          Mencegah perusahaan-perusahaan besar turut mempengaruhi kebijaksanaan politik dan ekonomi
-          Mencegah organisasi buruh (gabungan) menekan pengusaha dalam menentukan harga barang
       Di Indonesia Peran dan Campur Tangan Pemerintah Indonesia didasarkan atas :
a)      Amanat Konstitusi (pembukaan UUD 1945) : memajukan kesejahteraan umum, memajukan kecerdasan kehidupan bangsa dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. 
b)      Pasal 33, 34, dan 27 ayat 2, menyelenggarakan kesejahteraan sosial seluruh rakyat memalui antara lain:
-          Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting
-          Memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar
-          Penyediaan lapangan kerja. (Undang-Undang Dasar 1945).
(2) Sistem Ekonomi Pancasila (SEP)
1)      Rumusan Mubyarto
a)      Perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral
b)      Ada kehendak masyarkaat untuk mewujudkan pemerataan sosial ekonomi
c)      Nasionalisme selalu menjiawi kebijaksanaan ekonomi
d)     Koperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional
e)      Ada keseimbangan antara sentralisme dan desentralisme dalam kebijaksanaan ekonomi.
SEP tidak liberal-kapitalistik, juga bukan sistem ekonomi yang etastik. Meskipun demikian sistem pasar tetap mewarnai kehidupan perekonomian (Mubyarto, 1988).
2)      Rumusan Emil Salim (mengacu pada Pancasila dan UUD 1945)
a) Sistem Ekonomi yang khas Indonesia sebaiknya berpegang pada pokok- pokok pikiran yang tercantum dalam Pancasila
b) Dari Pancasila, sila keadilan sosial yang paling relevan untuk ekonomii.
Sila keadilan sosial mengandung dua makna :
Prinsip pembagian pendapatan yang adil
Prinsip demokrasi ekonomi
c) Pembagian pendapatann masa penjajahan tidak adil, karena ekonomi berlangsung berdasarkan free fight liberalisme
d) Prinsip demokrasi ekonomi ditegaskan (diatur) dalam UUD 1945 pada pasal-pasal 23, 27, 33, 34.
3) Prinsip Dasar dalam Ekonomi Pancasila
    a) Landasan Filosofis : PANCASILA
 b) Landasan Konstitusional : UUD – 1945
(1) Prinsip-prinsip Demokrasi Ekonomi
(a) Pasal 23  :       menegaskan hak-hak DPR untuk  :
- Menyetujui/ menolak RAPBN dengan UU
- Menetapkan pajak dengan UU
- Menetapkan macam dan nilai Mata uang dengan UU
- Memeriksa pertanggung jawaban keuangan negara (laporan BPK) dengan UU.
(b) Pasal 27  :      Menegaskan bahwa tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
(c) Pasal 34 :        Faktir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara
(d) Pasal 33 :       Antara lain menegaskan, bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan
c) Landasan Operasional : GBHN
a.       Demokrasi pancasila dan demokrasi ekonomi
b.      Konsep “Tingal Landas” : dari ajaran WW. Rostow (the Stages of Economic Growth) :
-          Tahap “traditional society” (tradisonal statis
-          Tahap “precondition for take-off” (Masa transisi)
-          Tahap “take-off” (lepas landas: disyaratkan antara lain tingkat investasi lebih 10% PN)
-          Tahap “the drive to maturity” (Economi sudah matang/ dewasa)
-          Tahap “The age of high mass consumption” (konsumsi massa yang melimpah) .
c.       Trilogi Pembangunan
-          Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
-          Pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan
-          Stabilitas nasional yang mantap
d.      Pembangunan Jangka pNajng dan Pembangunan Lima Tahun
e.       Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
-          Anggaran berimbang = defisit anggaran ditutup dengan nilai lawan
-          Struktur APBN diformulasikan (sektor domestic dan foreign)
G = R
G = Df + Dd
R = Rf + Rd
Gf + Gd = Rf + R
Gd - Rd = Rf – G
Dimana :
G                   = goverment expenditure
R                   = government revenue
Gf                  = foreign government expenditure
Gd                  = domestic government expenditure
Rf                   = foreign government revenue
Rd                  = domestic government revenue
Gd – Rd          = defisit anggaran domestic, ditutup
Rf – Gf           = surplus anggaran foreign








Daftar Pustaka

Winardi,  Pengantar tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem, Bandung, Penerbit   Alumni, 1986.
Suroso, P.C., Perekonomian Idnoensia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994.
Grossman, Gregoary, Economic Systems, New Jersey, Prentice Hall, Inc., 1967.
Sudarsono, Pengantar Ekonomi Mikro, LP3ES, jakarta, 1983.
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, PT. Raja Grafindo.
Mubyarto, Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, LP3E, Jakarta.
Salim, Emil, “Sistem Ekonomi Pancasila”, (Kompas, 30 Juni 1966). Dalam redaksi Harian Kompas, Penyunting, Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia, PT. Penerbit Gramedia, Jakarta, 1982.
Djojohadikusumo, Soemitro, Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila, IKPN-RI, Jakarta, 1985
Muljana, B.S., Pembangunan Ekonomi dan Tingkat Kemajuan Ekonomi Indonesia, Penerbit FE-UI, Jakarta, 1983.
Nasution, Anwar, “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara Setelah Kenaikan Migas”, dalam Anwar Nasutioan, Ed., Peluang dan Tantangan Pembangunan Sampai 1989, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1985